Sabtu, 23 Maret 2013

Karangan Bebas 1



Orang yang terakhir kali berdiri di sana……

Akhirnya, aku sampai ditepisana. Kulihat jelas semua oramennya. Dan aku hanya tersenyum kecil.

Diluar, matahari bersinar di satu sisi, tapi cahayanya lemah. Dan salju menumpuk disekitar sisi jalan yang terlihat. Beberapa yang lain berjatuhan dengan anggun. Tapi, tidak dingin. Entah kenapa, tidak dimgin.

Tempat ini tidak dapat aku jelaskan apa jenisnya. Ini seperti sebuah tempat dibawah gunung es. Hanya putih, putih, yang terlihat di mana-mana. Lekukan-lekukan tanah dan oh ya, yang paling aneh, adalah pohon-pohon yang berwarna biru.

Rasanya sunyi…

Tidak ada siapa-siapa di sana…

Aku merasa kesunyian ini adalah yang paling hening dalan hidupku. Aku merasa seperti jiwa yang baru keluar ke bumi, dan tersesat entah dimana. Aku hanya diam saja, memperhatikan daun-daun pohon biru itu berguguran pelan.

Lalu, kupandangin langit lagi. Kurasakan salju-salju itu menimpa wajuhku pelan-pelan, membelaiku. Mereka berkilauan disinari matahari lembuh. Berkilauan dalam tujuh warna, seperti pelangi.

Ah, pelangi….

Iris….

Entah kenapa nama itu yang pertama kali ku ingat disini. Entah kenapa aku langsung mengingatnya saat melihat biasan warna pelangi. Dia, yang diam-diam dengan tenang tertidur dalam jiwaku.

Lalu aneh, aku merasa ada sebuah lagu yang terdengar pelan. Tanpa musik, tanpa orchestra. Terdengar sayup-sayup dan indah. Seperti nyanyian kecil di keheningan yang luar biasa. Saat angina berhembus pelan tanpa suara, saat daun-daun berkibas dengan tenang.

Aku terdiam sambil menutup mata. Suara itu begitu indh, menggaung pelan di antara salju-salju yang turun. Aku merasakan dadaku terasa hangat, serasa tenggelam dalam suatu perasaan yang lebih hangat dari yang pernah ku alami sebelumnya.

Suara itu terasa semakin dekat…. Semakin hangat….

Sampai aku merasakan pelukan yang menyentuh erat punggung ku. Rasanya setiap sel dari tubuh ingin terbang dan bercahaya. Rasa nyaman dan segala macam perasaan aneh menjalar di sekujur tubuh ku. Aku tidak tahu itu siap, tapi rasa ini sulit ku lupakan….

Dia memeluk punggung ku begitu lama, kurasakan tangannya yang mungil menyentuh tanganku. Di genggamnya erat-erat tanganku itu rasanya semua rasa letih itu terlupakan….

Lalu aku berusaha berbalik, ingin melihat itu siapa, ku putarkan tubuhku pelan. Dia tidak memberontak, dia tidak berteriak. Tangannya melepaskan tubuhku.

Kupandang dekat-dekat seseorang yang ada di depanku itu…

Dia tersenyum kecil. Berdiri dengan anggun di antara tumpukan salju. Rambutnya yang panjang hitam, di embus angina pelan-pelan. Terdapat sayap seputih salju di punggungnya. Dia memakai sebuah gaun putih panjang.

Rasanya aku ingin menangis, berteriak, dan tertawa dalam waktu yang bersamaan. Aku merasa nyanyian itu terdengar sekali lagi, mengibaskan banyak hal di depanku. Kenangan-kenangan, perasaan… yang membeku dalam waktu, yang membiasakan warna-warna lembut, selembut salju.

Aku berlari ke arahnya dengan perasaan yang ingin meledak seutuhnya melebur seluruhnya. Menari dalam setiap baying mentari yang tersisa.

Kupeluk tubuhnya erat-erat. Kuhempaskan tubuhku ke arahnya. Kubiarkan setiap hal beribas dan berembus pelan, kubiarkan rasa hangat dan kasih meledak, membiasakan warna-warnanya di langit. Tubuhku bergetar hebat, kuremas lembut rambutnya. Dia hanya membelai rambutku pelan sambil mendekapku lebih erat lagi.

“Iris…. Iris…. Iris….” Ucapku pelan, berbisik dengan suara bergetar

“Iris…. Iris…. Ini Leo….”

Lalu, kami terus berpelukan

Lama sekali…

Sumber :
Novel “hujan pun berhenti…..”
ciptaan : Farida Susanty

Tidak ada komentar:

Posting Komentar