Minggu, 24 Februari 2013

PROPOSAL BAB III

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1   Objek Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil objek pada PT. Daeyu Indonesia yang beralamat di Jl. Sultan Hasanudin km-39 Tambun Selatan - Bekasi 17510. Perusahaan yang bergerak di bidang konveksi.

3.2   Data / Variabel
Data dari penelitian ini didapat langsung dari studi lapangan pada PT. Daeyu Indonesia sehingga informasi yang didapat lebih meyakinkan dan jelas. Data yang diambil berupa nama pegawai, tugas dari masing-masing pegawai dan lama pengerjaan tugas yang telah ditetapkan.
Sehingga data yang didapat daru studi lapangan tersebut adalah mengenai 13 karyawan pada bagian produksi untuk menempati 13 pekerjaan yang berbeda, antara lain :
1.      Yarn rewinding
2.      Yarn distribution
3.      Knitting
4.      1st inspection
5.      Linking
6.      Sewing
7.      Washing
8.      Setting & Ironing
9.      2nd inspection
10.  Accessories attachment
11.  Final inspection
12.  Packing
13.  Shipping

Pekerjaan tersebut dikerjakan oleh 13 karyawan dengan waktu yang berbeda, karena karyawan tersebut memiliki keahlian yang berbeda-beda pada setiap pekerjaan, seperti yang tertera dibawah ini :

Tabel 3.1
Proses Bahan Baku hingga menjadi Barang Setengah Jadi
pekerjaan

Karyawan

I

II

III

IV

V

VI
Dina
09.40
10.30
70.20
08.30
75.10
70.49
Maryani
08.55
12.10
95.10
08.55
80.15
67.73
Fauzi
09.60
13.40
85.52
11.14
60.27
64.07
Asnah
11.20
14.85
79.10
09.45
90.36
60.18
Wawan
08.59
11.20
80.13
13.27
92.56
65.12
Yayan
10.79
09.27
75.15
10.07
70.40
80.08
Sumber : PT. Daeyu Indonesia,2013                                      (dalam satuan menit)

Table 3.2
Proses Finising sampai Barang akan di Ekspor
pekerjaan

Karyawan

VII

VIII

IX

X

XI

XII

XII
Fitri
70.02
61.40
13.40
11.14
07.70
56.41
70.13
Andi
95.70
61.39
15.60
15.07
09.61
90.12
68.45
Rosidah
60.02
60.02
14.01
18.14
11.31
60.25
85.14
Sutono
67.18
59.14
09.41
13.20
09.80
72.04
60.17
Hesti
80.15
70.02
12.14
12.17
10.09
80.35
90.04
Saifudin
91.20
80.14
11.10
14.30
08.03
65.14
74.35
Sainah
87.04
90.31
10.50
10.49
06.49
75.03
60.15
Sumber : PT. Daeyu Indonesia,2013                                      (dalam satuan menit)

Keterangan pekerjaan :
I.                Yarn rewinding
II.             Yarn distribution
III.          Knitting
IV.          1st inspection
V.             Linking
VI.          Sewing
VII.       Washing
VIII.    Setting & Ironing
IX.          2nd inspection
X.             Accessories attachment
XI.          Final inspection
XII.       Packing
XIII.    Shipping

Data tersebut merupakan waktu yang dihasilkan oleh masing-masing karyawan dalam menyelesaikan tigabelas pekerjaan.

3.3   Metode Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data atau informasi yang lebih meyakinkan dan jelas, penulis mengumpulkan data dengan cara :
a.      Studi Kepustakan
Dengan mencari referensi dari buku-buku atau penelitian ilmiah lainnya yang dapat membantu penulis dalam menyusu penulisan ilmiah ini.
b.      Studi Lapangan
Merupakan studi lapangan yang dilakukan untuk memperoleh data yang lebih meyakinkan dan jelas dengan cara melakukan :
1.      Wawancara
Mengadakan komunikasi langsung dengan pemilik dan karyawan pada PT. Daeyu Indonesia untuk memperoleh data yang dibutuhkan penulis.
2.      Observasi
Dengan melakukan pengamatan langsung ke lapangan pada PT. Daeyu Indonesia untuk meneliti data yang berhubungan dengan penulisan ilmiah ini.
3.      Dokumentasi
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mencatat data-data yang dimiliki oleh perusahaan sesuai dengan kebutuhan pembahasan dalam penelitian ini.

3.4   Alat Analisis yang Digunakan
Alat analisis yang digunakan penulis untuk megelolah data adalah masalah penugasan yaitu metode Hungarian. Dalam metode Hungarian jumlah sumber yang ditugaskan harus sama persis dengan jumlah tugas yang akan diselesaikan. Metode ini merupakan modifikasi dari Metode Transportasi, untuk dapat diselesaikan dengan menggunakan metode Hungarian ini, maka data dari masalah tersebut harus dipresentasikan dalam bentuk tabel penugasan seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 3.3
Tabulasi Masalah Penugasan
Assignment
Assignee

1

2


n
1
A11
A21
A1n
2
A21
A22
A2n
n
An1
An2
Ann

Pada table diatas A11, A21, hingga Ann mempresentasikan data keuntungan yang diperoleh, karugian yang timbul oleh setiap tenaga kerja (Assignee) dapat menyelesaikan satu pekerjaan (Assignment).
Pada masalah penugasan ini, disyaratkan suatu penugasan satu-satu, sehingga jumlah assignee dan assignmentnya harus sama. Bila pada suatu masalah ditemui adanya jumlah assignee dan assignment yang berbeda, maka perlu ditambahkan suatu assignee atau assignment dummy untuk menyamakan jumlahnya. Penambahan baris atau kolom dummy ini merupakan langkah awal dalam pembuatan tabel penugasan.
Setelah data terpresentasi dalam bentuk tabel penugasan, maka kita dapat langsung menyelesaikannya dengan menggunakan metoda Hungarian. Dalam penyelesainnya, maslah penugasan ini terbagi dua masalah yaitu masalah masimisasi dan masalah minimisasi. Pada masalah maksimisasi,data yang tersaji adalah data keuntungan, dan pada masalah minimisasi data yang tersaji adalah data kerugian.

3.4.1        Langkah-langkah penyelesaian minimisasi
Langkah penyelesaian kasus minimisasi sebagai berikut :
1.      Tentukan nilai terkecil dari setiap baris, lalu mengurangkan semua nilai dalam baris tersebut dengan nilai terkecilnya.
2.      Diperiksa apakah setiap kolom telah mempunyai nilai nol. Bila sudah dilanjutkan ke langkah 3, bila belum maka dilakukan penentuan nilai terkecil dari setiap kolom yang belum mempunyai nilai nol, kemudian setiap nilai pada kolom tersebut dikurangkan dengan nilai terkecilnya.
3.      Ditentukan apakah terdapat n elemen nol dimana tidak ada nilai nol yang berada pada baris atau kolom yang sama, dimana n adalah jumlah kolom atau baris. Jika ada, maka tabel telah optimal jika tidak dilanjutkan ke langkah 4.
4.      Dilakukan penutupan semua nilai nol dengan menggunakan garis vertical atau horisontal seminimal mungkin.
5.      Ditentukan nilai terkecil dari nilai-nilai yang tidak tertutup garis. Lalu semua nilai yang tidak tertutup garis dikurangkan dengan nilai terkecil tersebut.
6.      Kembali ke langkah 3

3.4.2        Langkah-langkah peyelesaian maksimisasi
Langkah penyelesaian kasus maksimisasi sebagi berikut :
1.      Tentukan nilai terbesar dari setiap baris, lalu mengurangkan semua nilai pada setiap baris dari nilai terbesarnya.
2.      Diperiksa apakah setiap kolom telah mempunyai nilai nol. Bila sudah dilanjutkan ke langkah 3, bila belum maka dilakukan penentuan nilai terkecil dari setiap kolom yang belum mempunyai nilai nol, kemudian setiap nilai pada kolom tersebut dikurangkan dengan nilai terkecilnya.
3.      Ditentukan apakah terdapat n elemen nol dimana tidak ada nilai nol yang berada pada baris atau kolom yang sama, dimana n adalah jumlah kolom atau baris. Jika ada, maka tabel telah optimal jika tidak dilanjutkan ke langkah 4.
4.  Dilakukan penutupan semua nilai nol dengan menggunakan garis vertikal atau horisontal seminimal mungkin.
5.  Ditentukan nilai terkecil dari nilai-nilai yang tidak tertutup garis. Lalu semua nilai yang tidak tertutup garis dikurangkan dengan nilai terkecil tersebut.
6.      Kembali ke langkah 3.

Jumat, 11 Januari 2013

BAB 13 PENGARUH SITUASI



A.     TIPE-TIPE SITUASI KONSUMEN
Pengaruh situasi merupakan pengaruh yang muncul dari faktor yang khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan objek, sedangkan situasi konsumen adalah faktor  lingkungan yang mengakibatkan terbentuknya situasi yang muncul pada waktu dan tempat tertentu.
Tipe-Tipe Situasi Konsumen
1.       Situasi Komunikasi
Situasi Komunikasi lingkungan dimana konsumen dapat memperoleh informasi atau melakukan komunikasi. Konsumen mungkin memperoleh informasi melalui :
·         Komunikasi Lisan dengan teman, kerabat, tenaga penjual, atau wiraniaga.
·         Komunikasi non pribadi, seperti iklan TV, radio, internet, koran, majalah,
poster, billboard, brosur, leaflet dsb.
·         Informasi diperoleh langsung dari toko melalui promosi penjualan, pengumuman di rak dan di depan took.
2.       Situasi Pembelian
Situasi Pembelian adalah lingkungan atau suasana yang dialami atau dihadapi konsumen ketika membeli produk dan jasa. Situasi pembelian akan mempengaruhi pembelian Misal: Ketika Konsumen berada di bandara, ia mungkin akan bersedia membayar sekaleng Cola-cola berapa saja harganya ketika haus. Sebaliknya, jika ia berbelanja Cola-cola di swalayan dan mendapatkan harga relatif lebih mahal, ia mungkin sangat sensitif terhadap harga. Konsumen tersebut mungkin akan menunda pembelian Cola-cola dan mencari di tempat lain
3.       Situasi Pemakaian
Situasi Pemakaian disebut juga situasi penggunaan produk dan jasa merupakan situasi atau suasana ketika konsumsi terjadi. Konsumen seringkali memilih suatu produk karena pertimbangan dari situasi konsumsi. Misal: Konsumen Muslim sering memakai kopiah dan pakaian takwa pada saat sholat atau pada acara keagamaan. Kebaya akan dipakai kaum wanita pada acara pernikahan atau acara resmi lainya, dan jarang digunakan untuk pergi bekerja Para Produsen sering menggunakan konsep situasi pemakaian dalam memasarkan produknya, produk sering diposisikan sebagai produk untuk digunakan pada situasi pemakaian tertentu. Misalnya, ada pakaian resmi untuk ke pesta, pakaian olahraga, pakaian untuk kerja, pakaian untuk santai dan berolahraga.

B.      INTERAKSI INDIVIDU DENGAN SITUASI
1.       Pembentukan Kelompok Sosial
anusia dilahirkan kedunia seorang diri, tetapi kemudian hidup berkelompok dengan keluarganya. Seperti kita ketahui, manusia pertama adam telah ditakdirkan untuk hidup bersama dengan manusia lain yaitu istrinya yang bernama hawa.
Mereka lalu beranak pinak, terbentuklah keluarga, kelompok social, kelompok kekerabatan, masyarakat, bangsa, dan Negara.
2.       Perkembangan Kelompok Sosial
Kelompok social bukan merupakan kelompok yang statis. Setiap kelompok social selalu mengalami perkembangan atau perubahan. Beberapa kelompok social sifatnya lebih stabil daripada kelompok lainnya. Strukturnya tidak banyak mengalami peubahan yang mencolok. Namun, adapula kelompok social yang mengalami perubahan yang cepat, walaupun tidak ada pengaruh dari luar.
3.       Eksperimen Dinamika Kelompok Sosial
Floyd D.Ruch dalam bukunya, Psychologi and life, menegaskan bahwa dinamika kelompok atau (group dynamics) merupakan hasil interaksi yang dinamis diantara individu-individu dalam situasi social. Hipotesis eksperimen eksperimen yang bertujuan menyelidiki 2 hipotesis berikut ini :
·         Jalannya eksperimen.
·         Hasil eksperimen.

C.      PENGARUH SITUASI TAK TERDUGA
Situasi tidak terduga dapat menjadi pemicu seseorang untuk membeli suatu barang. Misalnya mahasiswi yang akan mengikuti ujian dan lupa membawa bolpoin dan pensil, maka secara otomatis dia akan membeli dulu bolpoin dan pensil sebelum mengikuti ujian tersebut.
Berikut ini adalah 5 karakteristik situasi pembelian :
1.       Lingkungan Fisik
Sarana fisik yang menggambarkan situasi konsumen yang meliputi: lokasi, dekorasi, aroma, cahaya, cuaca dan objek fisik lainnya yang ada di sekeliling konsumen
2.       Lingkungan Sosial Kehadiran dan ketidakhadiran orang lain pada situasi tersebut.
3.       Waktu
Waktu atau saat perilaku muncul (jam, hari, musim libur, bulan puasa, tahun baru). Waktu mungkin diukur secara subjektif berdasarkan situasi konsumen, misal kapan terakhir kali membeli biskuit. Arti kapan terakhir kali akan berbeda antar konsumen.
4.       Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai pada suatu situasi. Konsumen yang belanja untuk hadiah akan menghadapi situasi berbeda dibandingkan belanja untuk kebutuhan sendiri.
5.       Suasana Hati
Suasana hati atau kondisi jiwa sesaat (misalnya perasaan khawatir, tergesagesa, sedih, marah) yang dibawa pada suatu situasi

Sumber :

BAB 12 PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA



A.     KELUARGA DAN STUDI TENTANG PERILAKU KONSUMEN
Studi tentang keluarga dan hubungan mereka dengan pembelian dan konsumsi adalah penting, tetapi kerap diabaikan dalam analisis perilaku konsumen. Pentingnya keluarga timbul karena dua alasan, yaitu:
1.       Banyak produk yang dibeli oleh konsumen ganda yang bertindak sebagai unit keluarga. Rumah adalah contoh produk yang dibeli oleh kedua pasangan, barangkali dengan melibatkan anak, kakek-nenek, atau anggota lain dari keluarga besar. Mobil biasanya dibeli oleh keluarga, dengan kedua pasangan dan kerap anak remaja mereka terlibat dalam pelbagai tahap keputusan. Bentuk favorit dari kegiatan waktu senggang bagi banyak keluarga adalah berkunjung ke pusat perbelanjaan setempat. Kunjungan tersebut kerap melibatkan banyak anggota keluarga yang membeli pelbagai barang rumah tangga, busana, dan barangkali bahan makanan. Perjalanan tersebut mungkin pula melibatkan semua anggota dalam memutuskan di restoran fast-food mana untuk membelanjakan pendapatan keluarga yang dapat digunakan.
2.       Ketika pembelian dibuat oleh individu, keputusan pembelian individu bersangkutan mungkin sangat dipengaruhi oleh anggota lain.dalam keluarganya. Anak-anak mungkin membeli pakaian yang dibiayai dan disetujui oleh orang tua. Pengaruh seorang remaja mungkin pula besar sekali pada pembelian pakaian orangtua. Pasangan hidup dan saudara kandung bersaing satu sama lain dalam keputusan tentang bagaimana pendapatan keluarga akan dialoksikan untuk keinginan individual mereka. Orang yang bertanggung jawab untuk pembelian dan persiapan makanan keluarga mungkin bertindak sebagai individu di pasar swlayan, tetapi dipengaruhi oleh preferensi dan kekuasaan anggota lain dalam keluarga. Konsumen tersebut mungkin menyukai makanan dan kegiatan waktu senggang yang sama, dan mengemudikan merek mobil yang sama dengan anggota yang lain dalam keluarga. Pengaruh keluarga dalam keputusan konsumen benar-benar meresap.

B.      PENENTU KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA SUATU KELUARGA
Keluarga adalah “pusat pembelian” yang merefleksikan kegiatan dan pengaruh individu yang membentuk keluarga bersangkutan. Individu membeli produk untuk dipakai sendiri dan untuk dipakai oleh anggota keluarga yang lain.
Keputusan konsumsi keluarga melibatkan setidaknya lima peranan yang dapat didefinisikan. Peranan-peranan ini mungkin dipegang oleh suami, istri, anak, atau anggota lain dalam rumah tangga. Peranan ganda atau aktor ganda adalah normal.
1.       Penjaga pintu (gatekeeper). Inisiator pemikiran keluarga mengenai pembelian produk dan pengumpulan informasi untuk membantu pengambilan keputusan.
2.       Pemberi pengaruh (influencer). Individu yang opininya dicari sehubungan dengan kriteria yang harus digunakan oleh keluarga dalam pembelian dan produk atau merek mana yang paling mungkin cocok dengan kriteria evaluasi itu.
3.       Pengambil keputusan (decider). Orang dengan wewenang dan / atau kekuasaan keuangan untuk memilih bagaimana uang keluarga akan dibelanjakan dan produk atau merek mana yang yang akan dipilih.
4.       Pembeli (buyer). Orang yang bertindak sebagai agen pembelian: yang mengunjungi toko, menghubungi penyuplai, menulis cek, membawa produk kerumah, dan seterusnya.
5.       Pemakai (user). Orang yang menggunakan produk.
Pemasar perlu berkomunikasi dengan pemegang masing-masing peranan. Anak misalnya, adalah pemakai serealia, mainan, pakaian, dan banyak produk lain, tetapi mungkin bukan pembeli. Salah satu atau kedua orangtua mungkin merupakan pengambil keputusan dan membeli, walaupun anak mungkin penting sebgai pemberi pengaruh dan pemakai.
Peranan memberi pengaruh mungkin dipegang oleh orang yang paling ahli. Sebagai contoh, orangtua mungkin menjadi pengambil keputusan mengenai mobil mana yang mereka akan beli, tetapi remaja kerp memainkan peranan utama sebagai penjaga pintu informasi dan sebagai pemberi pengaruh karena pengetahuan yang lebih banyak mengenai unjuk kerja, cirri produk, atau norma social.

C.      FAMILY LIFE CYCLE (FLC)
Family life cycle dapat diartikan sebagai gambaran rangkaian tahapan yang akan terjadi atau diprediksi yang dialami kebanyakan keluarga. FLC terdiri dari variabel yang dibuat secara sistematis menggabungkan variable demografik yaitu status pernikahan, ukuran keluarga, umur anggota keluarga, dan status pekerjaan kepala keluarga.
1.       FLC tradisional
Pergerakan tahap yang sebagian besar keluarga lewati, dimulai dari belum menikah (bujangan), menikah, pertumbuhan keluarga, penyusutan keluarga, dan diakhiri dengan putusnya unit dasar. Tahapan dari FLC model adalah:
·         Stage I: Bachelor – pemuda/I single dewasa yang hidup berpisah dengan orang tua.
·         Stage II: honeymooners – pasangan muda yang baru menikah.
·         Stage III: parenthood – pasangan yang sudah menikah setidaknya ada satu anak yang tinggal hidup bersama.
·         Stage IV: postparenthood –sebuah pasangan menikah yang sudah tua dimana tidak ada anak yang tinggal hidup bersama.
·         Stage V: dissolution – salah satu pasangan sudah meninggal.

2.       FLC Non-traditional, yaitu:
·         Family household
ü  Childless couples – pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak dikarenakan oleh pasangan tersebut lebih memilih pada pekerjaan.
ü  Pasangan yang menikah diumur diatas 30 tahun – menikah terlalu lama dikarenakan karir dimana memutuskan untuk memiliki sedikit anak atau justru malah tidak memiliki anak.
ü  Pasangan yang memiliki anak di usia yang terlalu dewasa (diatas 30 tahun).
ü  Single parent I – single parent yang terjadi karena perceraian.
ü  Single parent II – pria dan wanita muda yang mempunyai satu atau lebih anak diluar pernikahan.
ü  Single parent III – seseorang yang mengadopsi satu atau lebih anak.
ü  Extended family – seseorang yang kembali tinggal dengan orang tuanya untuk menghindari biaya yang dikeluarkan sendiri sambil menjalankan karirnya. Misalnya anak, atau cucu yang cerai kemudian kembali ke rumah orang tuanya.
·         Non family household
ü  Pasangan tidak menikah
ü  Perceraian tanpa anak
ü  Single person – orang yang menunda pernikahan atau bahkan memutuskan untk tidak menikah
ü  Janda atau duda

D.     PERUBAHAN STRUKTUR KELUARGA DAN RUMAH TANGGA
Industrialisasi telah membawa pengaruh signifikan dalam perubahan struktur keluarga di Indonesia. Sebelum berkembangnya industrialisasi di Indonesia struktur keluarga terdiri dari keluarga besar yaitu keluarga yang terdiri dari kakek, nenek, anak, suami dan cucu-cucunya atau bisa disebut dengan keluarga dengan beberapa generasi dalam satu atap. Setelah industrialisasi berkembang di Indonesia menyebabkan orang-orang desa pindah ke kota dengan alasan meningkatkan ekonomi keluarga sehingga lambat laun keluarga besar pun semakin menipis hingga akhirnya terbentuk keluarga kecil. Keluarga kecil ini pun salah satunya terbentuk akibat adanya program keluarga berencana yang diciptakan pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat agar menjadi keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Dan saat ini muncul pula fenomena struktur keluarga kecil dengan tipe single perent yang terjadi akibat moral masyarakat yang lemah.

E.  METODE RISET UNTUK MENGETAHUI PENGAMBILAN KEPUTUSAN OLEH KELUARGA
Kerangka Proses Keputusan
Studi mengenai struktur peran kerap memandang pembelian sebagai tindakan ketimbang proses dan mendasarkan temuan pada pernyataan seperti “siapa biasanya yang menambil keputusan pembelian?” atau “siapa yang mengambil keputusan ?”. Namun, bukti tersebut menunjukkan bahwa peranan dan pengaruh anggota keluarga bervariasi menurut tahap di dalam proses keputusan. Sebuah contoh dari metodologi proses diberikan oleh Wilkes, yang merasa bahwa pernyataan berikut ini berguna untuk mengukur pengaruh keluarga :
1.       Siapa yang bertanggung jawab untuk pengenalan awal?
2.       Siapa yang bertanggung jawab untuk memperoleh informasi mengenai alternative pembelian?
3.       Siapa yang mengambil keputusan akhir mengenai alternative man yang harus dibeli?
4.       Siapa yang membuat pembelian actual terhadap produk?
Hasil yang lebih baik diperoleh dengan menggunakan metodologi ini dibandingkan dengan ukuran yang lebih global. Suami dan istri lebih mungkin menganut persepsi yang sama mengenia pengaruh relative mereka untuk fase tertentu daripada bila pengajuan pertnyaan gagal menanyakan tentang tahap-tahap keputusan.

Sumber :